Senin, 22 Mei 2017

Mangga, Si Manis dari Cirebon yang Mendunia

Wilayah Jawa Barat khususnya daerah Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan atau biasa disebut Ciayumajakuning, merupakan wilayah andalan dalam pengembangan beberapa jenis mangga seperti mangga harummanis, gedong dan gedong gincu. Diantara jenis tersebut mangga gedong gincu merupakan jenis unggulan yang mempunyai nilai produktif dan kompetitif. Hal tersebut yang mendasari masyarakat Ciayumajakuning menjadikan mangga jenis ini sebagai produk andalan atau “maskot” daerah baik skala nasional maupun skala internasional.
Berdasarkan data komoditas hortikultura tahun 2015, produksi Mangga untuk daerah Jawa Barat dengan luas panen 24.156 hektar mencapai 202.681 ton, mengalami penurunan dari tahun 2014 dengan luas lahan panen 34.287 hektar yang volumenya mencapai 321.482 ton. Jumlah ini menggambarkan penyumbang terbesar produksi mangga yaitu kabupaten Indramayu sebanyak 34%, kabupaten Majalengka 32%, Cirebon 18%, dan terakhir Kuningan 16%. Produksi tanaman buah di Kabupaten Cirebon yang terbesar berada di wilayah Susukan Lebak yang mencapai 58.452 kwintal, Lemah Abang 37.710 kwintal dan Dukupuntang 29.240 kwintal.
Berdasarkan pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian tahun 2015, dalam skala Nasional nilai ekspor permintaan mangga terbesar yaitu Singapura dan Uni Emirat Arab. Volume ekspor mangga nasional ke Singapura mencapai 491.232 kg senilai 862.527 US$ sedangkan untuk Uni Emireat Arab mencapai 322.290 kg senilai 282.975 US$. Daerah Jawa Barat sendiri menyumbang 25.230 kg senilai 47.114 US$ selama bulan Agustus sampai Desember 2015.
Banyaknya nilai ekspor mangga tidak lepas dari peran para distributor sekligus eksportir buah nasional. Salah satu putra daerah yang sukses menjadi distributor sekaligus eksportir buah yaitu Ahmad Abdul Hadi atau biasa disebut Bapak Hadi. Pria kelahiran 7 Oktober 1984 merupakan salah satu pemilik perusahaan terkenal di Cirebon yang sudah 15 tahun menjalankan usaha dalam distributor buah. Beliau adalah pemilik CV. Sumber Buah yang beralamat di Jalan Sultan Agung Tirtayasa No. 4, Kedungdawa, Kecamatan Kedawung, Cirebon. Bukan hanya menjadi distributor buah dalam negeri, beliau juga mengekspor buah lokal hingga ke luar negeri.


Perusahaan ini awalnya hanya sebuah kedai pedagang buah biasa yang dijalankan oleh ayah dari Bapak Hadi yakni bapak H. Wawan Sukarya pada tahun 1977. Bisnis ini kemudian berkembang menjadi penyuplai buah yang awalnya hanya ke wilayah Bandung Jawa Barat. Saat ini jaringan distribusinya sampai ke wilyah Pekanbaru, Padang dan Sumatera. Bukan hanya itu saja, berkat kecerdasan Bapak Hadi dalam berbahasa terkhusus bahasa Arab dan bahasa Inggris, beliau mampu mengekspor 1 ton mangga gedong gincu dan mangga harum manis pada Oktober 2008 ke luar negeri. Hal ini merupakan ekspor perdana dalam sepanjang sejarah perjalanan usahanya. 
Tahun selanjutnya, Bapak Hadi mulai aktif dalam memasarkan buah lokal ke negara selain Singapura, dengan bantuan internet kini jaringan distribusinya sudah sampai ke Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Jeddah, Oman dan Dubai serta menyebar ke Hongkong dan Belanda. Mangga merupakan tanaman yang berbuah pada bulan-bulan tertentu, untuk menyiasati permintaan konsumen untuk mengekspor buah lokal, beliau tidak hanya mengekspor mangga, tetapi juga manggis, rambutan, duku, dan buah naga. Penyuplai buah di CV Sumber Buah juga bukan hanya para petani dari daerah Ciayumajakuning tapi juga para petani dari Jawa Timur, Bali, bahkan Lampung.

Ruangan Packaging CV. Sumber Buah

Proses produksi dan packaging di CV. Sumber Buah juga menyesuaikan permintaan masing-masing negara yang berbeda-beda. Proses packaging dibedakan untuk berat buah 1 kilogram, 3 kilogram dan juga 10 kilogram. Buah yang sudah masak sekitar 70 – 80% dipetik pada sore hari, setelah sampai di gudang buah akan melalui tahap penyortiran sampai dua kali sesuaib dengan grade layak ekspor, kemudian masuk dalam proses pangemasan jala buah untuk menghindari kerusakan akibat gesekan antara kulit buah dengan kardus, selanjutnya buah dimasukkan dalam kardus. Proses produksi dan pengemasan buah ini membutuhkan banyak tenaga kerja sehingga Bapak Hadi menyewa tenaga kerja borongan yang sebagian besar adalah penduduk sekitar rumah beliau. 
Menggeluti dunia distribusi dan eksportir buah lokal bukanlah hal yang mudah. Banyak tantangan dan hambatan yang dihadapi. Masa simpan buah yang cukup pendek menyebabkan sebagian buah yang sampai ke tangan konsumen dalam keadaan tidak segar lagi atau lebih buruknya busuk. Dalam kondisi tersebut, buah yang rusak tidak akan dibayar oleh konsumen. Ketika hal ini terjadi, secara otomatis perusahaan akan mengalami kerugian. Tantangan lainnya yang dihadapi yaitu pada saat pengiriman antar wilayah di Indonesia menggunakan perjalanan darat yang membutuhkan waktu lebih lama. Hal ini mengakibatkan buah mengalami penyusutan atau pengurangan dalam tonase ketika sampai di konsumen sehingga kerugian puntidak bisa dihindari.
 “Harapannya kedepan CV. Sumber Buah (SAE) dapat berkembang menjadi sebuah Perseroan Terbatas (PT) sehingga teknologi dalam penyortiran, pengemasan, hingga distribusi dapat memberikan yang terbaik kepada konsumen, permintaan konsumen dapat terkirim dengan cepat dan bisa memberikan kebermanfaatan untuk warga sekitar perusahaan”, ungkap Tati selaku staff Keuangan CV. Sumber Buah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar